Minggu, 01 Juli 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Pendidikan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia dalam menghadapi kemajuan jaman.Tak terkecuali pendidikan matematika yang memiliki peranan dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi serta kemampuan untuk berargumentasi atau mengemukakan ide-ide.Pembelajaran matematika disekolah diselenggarakan mengacu pada tujuan umum matematika.Pembelajaran matematika disekolah pun harus mampu member kopetensi – kopetensi matematika yang ada.
            Dalam draf panduan KTSP matapelajaran matematika (http://www.sekolahdasaronline.com/fguru/ktsp/Pedoman%20Peny%20KTSP%20Ddk.doc) mata pelajaran matematika bertujuan agar siswa memiliki kemampuan sebagai berikut :
·         Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
·         Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan  matematika
·         Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
·         Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
·         Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.


            Komunikasi dalam matematika merupakan bagian penting dalam pembelajaran matematika. Kemampuan komunikasi matematis sangat penting siswa  miliki dan kembangkan.  Dengan komunikasi matematis,siswa dapat mengemukakan ide dengan cara  mengkomunikasikan  pengetahuan matematika yang dimilikinya baik secara lisan  maupun  tulisan. Tetapi seringkali siswa tidak  mampu menyelesaikan suatu permasalahan matematika karena  kesulitan  dalam  mengkomunikasikan  idenya  atau  merepresentasikan permasalahan  tersebut  ke  dalam bahasa matematis.Ketidakmampuan  siswa dalam  mengkomunikasikan  permasalahan  matematika  membuat  siswa kesulitan dalam memecahkan permasalahan tersebut,  karena  permasalahan tersebut menjadi bias.
            Upaya yang dapat dilakukan yaitu menerapkan suatu pembelajaran yang tepat yang  dapat  memberikan kesempatan kepada  siswa  untuk  dapat berperan  aktif  dalam  mengkomunikasikan  pengetahuan  yang ia miliki, akibatnya  kemampuan  komunikasi siswa  dapat  meningkat. Salah  satu  model pembelajaran  yang  dapat diterapkan dalam pembelajaran  matematika  adalah Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP).
            Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mencoba mengkaji penerapan Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dalam pembelajaran faktorisasi suku aljabar.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah dari makalah iniu yaitu “Bagaimana penerapan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dalam pembelajaran faktorisasi suku aljabar”.
C.       Batasan Masalah
Yang menjadi batasan masalah dalam makalah ini adalah penerapan model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) dalam pembelajaran matematika tentang faktorisasi suku aljabar di kelas VII SMP.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian  Belajar
            Dalam suatu proses pembelajaran terjadi kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, yang mana harus dilakukan dengan sistematis melalui tahap rancangan pelaksanaan dan evaluasi.
            Hudojo (1988:1) menyatakan bahwa “belajar adalah usaha seseorang dalam memperoleh pengalaman atau pengetahuan baru sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai hasil dari latihan atau pengalaman(dalam Karso,dkk, 1993:211). Dalam pendidikan di sekolah kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling mendasar.
Slameto (2003:2) menyatakan bahwa belajar ialah “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan
 Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses tingkah laku seseorang yang didapat melalui interaksi dan pengalaman dengan lingkungannya. 
B.     Pengertian Pembelajaran Matematika
Pembelajaran (dalam Prof. Dr. S. Nasution, 1999:102) adalah proses interaktif yang berlangsung antara guru dengan siswa atau juga antara sekelompok siswa, dengan tujuan untuk memperoleh pengetahuan.
Jhonson dan Rising (Ruseffendi, 1995:28) mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logika.
Sagala (2003:61) mengatakan bahwa “Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid”.Pembelajaran merupakan proses interaksi antara pendidik dan peserta didik sehingga terjadi perubahan tingkah laku pada peserta didik.
Hudojo(1988:3) mengatakan bahwa matematika berkenaan dengan ide (gagasan – gagasan),struktur–struktur,dan hubungan-hubungannya diatur secara logika sehingga matematika berkenaan dengan konsep konsep abstrak”.Konsep–konsep yang ada dalam matematika tidak dapat dipindahkan langsung kepada siswa.Dan untuk memindahkan konsep tersebut diperlukan proses, dalam arti konsep pengetahuan yang dimiliki siswa sebelumnya. Jadi dalam belajar matematika siswa harus terlibat dalam proses memperoleh pengetahuan dan keterampilan serta konsep konsep yang ada dalam matematika.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah proses interaksi antara guru dengan siswa dalam membangun pola piker yang logis dan terorganisir untuk membantu siswa mengembangkan pengetahuannya.
C.    Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
            Dalam suatu proses pembelajaran terdapat berbagai komponen pembelajaran yang harus dikembangkan dalam  upaya mendukung tercapainya tujuan pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam tujuan pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam belajar. Komponen-komponen tersebut diantaranya guru, siswa, model pembelajaran, metode pembelajaran, serta sumber dan media pembelajaran. Sebagai salah satu komponen pembelajaran, pemilihan model pembelajaran akan sangat menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.Saat ini terdapat berbagai model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Salah satu diantaranya adalah model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP).
            Model pembelajaran MMP merupakan suatu program yang didesain untuk membantu guru dalam hal efektivitas penggunaan latihan-latihan agar siswa mencapai peningkatan yang luar biasa. Latihan-latihan yang dimaksud adalah lembar tugas proyek.



Langkah-langkah dari model pembelajaran MMP adalah sebagai berikut:
1.      Review
Kegiatan yang dilakukan pada langkah ini adalah meninjau ulang pelajaran lalu terutama yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari pada pembelajaran tersebut, membahas soal pada PR yang dianggap sulit oleh siswa serta membangkitkan motivasi siswa.
2.      Pengembangan
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan berupa penyajian ide baru dan perluasan, diskusi,  serta demonstrasi dengan contoh konkret. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui diskusi kelas. Pengembangan akan lebih baik jika dikombinasikan dengan control latihan untuk menyakinkan bahwa siswa mengikuti penyajian materi ini.
3.      Latihan terkontrol
Pada langkah ini siswa berkelompok merespon soal dengan diawasi oleh guru. Pengawasan ini berguna untuk mencegah terjadinya miskonsepsi pada pembelajaran.Guru harus memasukkan rician khusus tanggung jawab kelompok dan ganjaran individual berdasarkan pencapaian materi yang dipelajari.
4.      Seat work/kerja mandiri
Pada langkah ini siswa secara individu atau kelompok belajara merespon soal untuk latihan atau perluasan konsep yang telah dipelajari pada langkah pengembangan.
5.      Penugasan/Pekerjaan Rumah (PR)
PR tidak perlu diberikan kecuali guru yakin siswa akan berlatih menggunakan prosedur yang benar.Tugas PR harus memuat beberapa soal review.